Minggu, 29 Mei 2016

Sharing Ekonomi Itu Gotong Royong





       Disekolah dasar kita selalu diajarkan apa itu kata gotong royong, secara sederhana  kita bisa menjawabnya kerjasama yang dilakukan secara bersama-sama dengan prinsip berbagi.Dibali, kerjasama itu disebut subak dan ngayah. Mapalus (manado), kenduri (Aceh), Gugur Gunung (jogja). Sambatan (pesisir Jatim) Sidapari (sumatera utara) dan masih banyak istilah yang digunakan di nusantara ini.

      Selain gotong royong, Indonesia juga punya perekonomiannya, yaitu ekonomi gotong royong. Bung Hatta pencetusnya, sebagai ekonom. Bung Hatta berasal daru Sumatera Barat, sangat dekat dengan ekonomi gotong royong. Sebenarnya  kita punya akar untuk memahaminya bahwa sharing ekonomi itu gotong rooyong. Namun masih dianggap membingungkan tentang fenomena sharing economy karena dianggap sering tidak taat azas dan aturan dan sering menjadi sassaran black campaign, salah satunya belanja on-line beresiko dan tidak aman. Hanya gara-gara ada pelaku bisnis yang nasibnya terganggu atau mungkin pihak lain yang kurang nyaman. Harap maklum, segala praktik yang baru memang begiitu ada pro dan kontranya.Wajar saja sudah lama para ahli mengingatkan bahwa kita tengah memasuki era new economy. Kalau dulu ada classical dan neoclassical, kini ada new economy. Celakanya, teori-teori tentang keadaan di dunia ekonomi baru itu lebih banyak dikembangkan orang-orang micro dalam ranah strategic management, sehingga wajar kalau masih banyak yang mengorek-ngorek apakah ini socialism, capitalism, atau new capitalism..

    Padahal jelas sekali, analisis ekonomi lama didasarkan owning economy, yang setelah dipetakan para pelaku bisnis dunia baru mengakibatkan banyak idle (aset yang menganggur), yang baru akan menjadi produktif kalau mereka berkolaborasi. Nah, kolaborasi itu mereka beri nama sharing yaitu sharing resources . Ini jelas jadi membingungkan mereka yang main asal menerjemahkan dan merasa janggal kalau di Indonesiakan menjadi ”berbagi”. angankan paradigmanya atau ideologinya, basis data analisisnya saja sudah berbeda. Old economy menggunakan time series data, makanya ada istilah lagi. Sedangkan new economy sudah memakai big data analytics, real time (bukan time series). Maka pola supply-demand -nya tak bisa lagi dibuat kebijakan dengan batas harga atas bawah yang berlaku sekian lama (katakan setahun atau enam bulan). Wong harga dan biaya dalam hitungan jam saja sudah berubah. Apalagi harian.

      Kalau dibuat rigid maka yang terjadi inefisiensi itu menjadi high cost, pengangguran. Tidak jadi daging. Berpotensi tidak menyejahterakan. Di banyak negara, fenomena ini terus bergerak namun juga menghadapi tantangan seperti di sini. Tantangan itu bisa menjadi batu pijakan untuk membuat bisnis ini menjadi semakin matang dan berkembang. Sederhana saja. Masyarakat kita menerima kehadiran bisnis-bisnis baru ini dengan tangan terbuka. Juga, bukankah memang begitu lazimnya bisnis. Bukan proteksi yang membuat suatu bisnis maju dan berkembang, melainkan kompetisi dan tantangan
     Awal kemunculan sharing economy tumbuh dan berkembang sejak masa krisis menerpa negara-negara maju ditahun 2008-2009. Itu tahun penting sebab pada tahun-tahun itulah ekonomi kolaborasi mulai berkembang, terutama di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS). Anda masih ingat apa yang terjadi tahun itu? Betul, ekonomi dunia terperangkap dalam krisis finansial yang dipicu oleh skandal subprime mortgage di AS.

     Skandal itu membuat sejumlah perusahaan AS bangkrut dan menyeret ekonomi Negeri Paman Sam itu masuk dalam krisis. Celakanya, AS menguasai 40% perekonomian dunia. Maka krisis di AS pun berimbas ke mana-mana, termasuk mengancam perekonomian negara kita. Perlambatan ekonomi terjadi di banyak negara, bahkan beberapa malah minus pertumbuhannya. Pengangguran meningkat.
Di AS, juga di Eropa. Kita pun terkena imbasnya, meski tak separah negara-negara maju. Di tengah kondisi yang demikian, muncul bisnis-bisnis baru yang men-disruption bisnis- bisnis lama dan sekaligus menjadi jawaban atas permasalahan yang terjadi saat itu. Ekonomi sedang krisis. 

        Pengangguran di mana mana. Mengapa harga-harga masih begitu mahal ? Chris Anderson, penulis buku Makers: The New Industrial Revolution (2012), menulis begini, ”If the past decade has been about finding new innovation and collaboration models on the web, the next decade will be about applying them to the real world.” Bisnis-bisnis baru ini memang mengandalkan teknologi sebagai enabler dan membuatnya menjadi sangat efisien. Apa saja teknologi yang memainkan peran penting di sini. Banyak sekali.

       Misalnya, internet yang kian mengglobal dan memungkinkan seluruh warga dunia terkoneksi. Lalu, peranti gadget kita yang kian powerful dan mobile. Dulu salah satu masalah serius dalam bisnis di dunia maya adalah soal pembayaran. Ini membuat pasar maya sulit berkembang. Beruntung kini kita sudah memiliki sejumlah sistem pembayaran di pasar maya. Misalnya, Paypal. Salah satu fenomena yang memicu berkembangnya bisnis berbagi adalah social network. Contohnya Facebook. Sampai dengan Juni 2014, pengguna aktifnya sudah mencapai 1,32 miliar atau hampir 20% dari seluruh penduduk dunia. Lalu ada Google+ yang jumlah penggunanya bahkan sudah mencapai 1,6 miliar, Twitter dengan 645,7 juta, atau Instagram 415 juta. Di luar itu masih ada beberapa media sosial lainnya, seperti LinkedIn, Pinterest, Path, atau SnapChat.

        Pada akhirnya adalah man behind the gun. Siapa mereka? Mereka ini anak-anak muda yang peduli dengan lingkungan dan sesama, senang berbagi dan suka menolong orang lain. Auguste Comte menyebut perilaku manusia seperti ini dengan istilah altruisme , yakni perilaku yang ingin membuat dirinya bermanfaat bagi sesamanya, bahkan kalau perlu sampai mengorbankan dirinya. CEO Google Eric Schmidt mengidentifikasi mereka: ”Ini generasi cerdas. Mereka lebih cepat, lebih global, banyak akal, dan berpendidikan lebih baik. Mereka saling terhubung sejak menjelang lahir melalui ponsel, chatting, dan jaringan sosial. Mereka saling peduli lebih dari yang pernah kita bayangkan.” Negara kita punya sejumlah kondisi yang kurang lebih sama dengan negara-negara maju kala mereka menghadapi krisis ekonomi. Kita memang tidak berada dalam kondisi krisis ekonomi. 

       Pertumbuhan ekonomi kita pada tahun 2016 ditargetkan mencapai 5,3%. Namun, pengangguran di negara kita masih bertebaran di mana-mana. Ini jelas bukan masalah pemerintah, melainkan kita semua. Bicara teknologi, Ini jelas bukan masalah pemerintah, melainkan kita semua. Bicara teknologi, ini datanya. Jumlah pengguna internet di negara kita pada tahun 2014 diperkirakan lebih dari 93,4 juta. Kini jumlahnya pasti sudah bertambah. Lalu, pengguna Facebook pada 2014 diperkirakan sudah 69 juta. Kini pasti jumlahnya juga sudah bertambah. Kemudian, pengguna Twitter sudah menembus 50 juta pengguna.

       Sementara pengguna Path dan LinkedIn masing- masing sudah di atas 4 juta. Lagi, jumlah mereka bakal terus bertambah. Jadi dari sisi social network, kita juga sudah siap melakukan tugas sharing dan berkolaborasi. Lalu, yang terakhir dan membuat saya sangat bangga, kita punya pasokan generasi altruisme . Mereka bukan hanya generasi yang mau berbagi dan suka menolong. Lebih dari itu, mereka adalah generasi yang punya mimpi-mimpi besar tentang negara ini. Mereka bukan generasi yang hanya menanti datangnya perubahan.

      Mereka bertindak. Bahwa langkah yang mereka lakukan menciptakan disruption, dan itu konsekuensi logis. Sebab sebagai pendatang baru dalam dunia bisnis, perilaku mereka memang harus begitu. Mereka harus men-disruption bisnis-bisnis yang lama. Kalau hanya me too, mereka tak ada bedanya dengan pemain yang sudah existin. Selamat datang di era disruption..

3 komentar:

  1. Good job 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻

    BalasHapus
  2. Ternyata oni cerita yg pernah abang ceritakan ke saya dulu yahhh.. emang ya pejuang desa di negeri aceh yg satu ini.

    BalasHapus