Gojek, Grab, uber,nebeng.com, i grow, sangat akrab dengan
kehidupan kita sehari-hari. Fonomena
baru yang hadir ditengah masyarakat, teknologi yang merubahnya, imbasnnya
pasarpun juga ikut berubah suatu kondisi yang tidak pernah terbayangkan
beberapa tahun yang lalu. Crowd businesss kian kencang berputar akibat kemajuan
teknologgi informasi-yang terutama membuat arus informasi-terutama membuat arus
informasi mengalir deras dan sekaligus memangkas biaya-biaya transaksi. Dulu
kalau kita mau mencari suatu barang mesti menghabiskan waktu, tenaga dan uang .
Kita datang ke beberapa toko, melihat barang, membandingkan harganya, dan
melakukan tawar-menawar.
Kalau setuju, baru kita membayar, kini hal itu tidak perlu
lagi. Kita cukup berselancar di dunia maya. Mencari barang dan membandingkannya,
memilih, memesan, lalu membayar. Semuanya bisa dilakukan tanpa kita harus
beranjak dari kursi dan dengan biaya nyaris nol. Itu pula yang terjadi dalam
perseteruan antara bisnis taksi konvensional
vs taksi berbasis aplikasi. Gojek vs ojek konvensional.
Untuk rute Dermaga ke Barangsiang yang sama-sama di
Kabupaten Bogor, dengan ojek biasa tarifnya 50.000, sementara dengan ojek
on-line hanya Rp.20.000. Ini jelas pilihan yang mudah buat calon konsumen. Switching cost dalam
industri ini amat rendah. Maka
terjadilah downshifting. Lalu, bagaimana yang satu bisa lebih mahal sedangkan
yang lain bisa lebih murah ? ini adalah persoalan model bisnis
Analoginya mirip bisnis penerbangan full service dengan low
cost carrier (LCC). LCC mendesain model
bisnisnya dengan memangkas berbagai biaya. Sehingga tarifnya menjadi lebih
murah ketimbang maskapai penerbangan yang full service. Model bisnis inilah
yang membuat bisnis model lama akan segera usang.
Pesaing bukan sesama pelaku bisnis inni, melainkan para
pembuat aplikasi yang mempertemukan pemilik kendaraan pribadi dengan calon
konsumen yang membutuhkan jasa angkutan. Inilah era disaat semua salin berbagi
dan mengedepankan efisiensi, pada intinya kita saling mendayagunakan segala
kepemilikan bisa disebut sharing econoomy.
Kasus serupa bisnis transportasi yang sering kita temui di
Indonesia tampaknya bakal kita jumpai dalam bisniss-bisnis yang lain. Diluar
negri. Pangsa pasar bisnis perbankan mulai terganggu oleh hadirnya
perusahaan-perusahaan crowd funnding. Contohnya saja www. Lendingclub.com.
Perusahaan ini mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam
bentuk kredit ke masyarakat. Bedanya, proses kreditnya jaauh lebih simpel
dibandingkan perbankan, dan suku bunganya pun lebih murah. Di Indonesia bisnis
seperti ala lending club sudah ada. Silahkan cek website-nya di www.gandengtangan.org. Memang saat ini
bisnis yang didanai masih untuk usaha
skala mikro dan social enerprise. Tapi, siapa tahu kedepan bakal melebar
kemana-mana di luar negeri, ada www.wirbnb.com
yang mempertemukan para pemilik rumah pribadi yang ingin menyewakan rumahnya
dengan orang-orang yang mencari penginapan.
Soal tarif, jelas lebih murah ketimbang hotel lalu adda juga
aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen
angkutan darat. Namanya Lyft. Hadirnya aplikasi ini membuat bisnis taksi
tersaingi. Begitulah, kita tak biisa membendung teknologi . Ia akan hadir untuk
menghancurkan bisnis-bisnis yang sudah mapan- yang tak bisaberadaptasi ddengan
perubahan.
Persis kata charles darwin, bukan yang terkuat yang akan
bertahan. Tetapi yag mampu beradaptasi dengan perubahan. Maka, kita harus
berdamai dengan perubahan. Bagaimana caranya ? Diluar negeri. Para pengelola
chain hotel berdamai dengan kompetitornya. Para pemilik rumah yang siap
disewakan melalui jasa www.airbnb.com.
Caranya mereka menjadi pengelola dari rumah-rumah yang bakal disewakan tersebut
sehingga ruangan dan layananya memiliki standar ala hotel.
Ditahun 1990-an lego menghadapi tantaangan dari industri
videogames yang membuat anak-anak tak berminat lagi dengan batu bata
mainan buatan lego. Namun,perusahaan itu
mampu bangkit lagi dengan mengandalkan inovasi daro orang-orang di luar
perusahaan, atau crowd sourching. Mereka semua belajar dari model bisnis Kick
Starter yang fenomenal. Lego tak melawan perubahan, tetapi berdamai. Saya tidak
punya resep khusus bagaimana caranya setiap perusahaan mesti menghadapi
perubahan. Intinya jangan menentang. Berdamailah dengan perubahan

Keren
BalasHapusSharing ekonomi harus di share juga utk olahraga bang. (Saya anak jurusan olahraga). Biar masyarakat indonesia makmur dan punya masa hidup yg lebih panjang krna mereka sadar akan pentingnya olahraga. Jangan seperti kasus skrg ini. Pejabat korup kaya raya tp mati krn penyakit keras. Buat apa ??? Udah haram, mati pulaaaaa....
BalasHapusSy berpikirnya bahwa sharing economy itu hanya untuk kalangan perkotaan mas bro... Tapi pengelolaan sumberdaya lokal juga kiranya dapat menggunakan sistem ini. Sharing profit bagi petani dan nelayan dengan margin yang lebih besar bagi penyedia sumberdaya merupakan sebuah keberpihakan bagi pembangunan masyarakat kecil. Saya berpikirnya bahwa ekonomi kerakyatan itu semestinya dibangun dengan sharing economi yang adil. Sehingga distribusi ekonomi itu sampai pada daerah terpencil. Hal ini akan mencpitakan distribusi ekonomi bagi masyarakat yang lebih luas. Juga secara tidak langsung akan menurunkan ketergantungan terhadap lapangan kerja di perkotaan. Konsekuensi logisnya adalah menurunkan urbanisasi dan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat khususnya nelayan, petani dan mata rantainya...
BalasHapus