Minggu, 29 Mei 2016

MEREKA MENYEBUTNYA SHARING ECONOMY





     Gojek, Grab, uber,nebeng.com, i grow, sangat akrab dengan kehidupan kita sehari-hari.  Fonomena baru yang hadir ditengah masyarakat, teknologi yang merubahnya, imbasnnya pasarpun juga ikut berubah suatu kondisi yang tidak pernah terbayangkan beberapa tahun yang lalu. Crowd businesss kian kencang berputar akibat kemajuan teknologgi informasi-yang terutama membuat arus informasi-terutama membuat arus informasi mengalir deras dan sekaligus memangkas biaya-biaya transaksi. Dulu kalau kita mau mencari suatu barang mesti menghabiskan waktu, tenaga dan uang . Kita datang ke beberapa toko, melihat barang, membandingkan harganya, dan melakukan tawar-menawar.

     Kalau setuju, baru kita membayar, kini hal itu tidak perlu lagi. Kita cukup berselancar di dunia maya. Mencari barang dan membandingkannya, memilih, memesan, lalu membayar. Semuanya bisa dilakukan tanpa kita harus beranjak dari kursi dan dengan biaya nyaris nol. Itu pula yang terjadi dalam perseteruan antara bisnis taksi konvensional  vs taksi berbasis aplikasi. Gojek vs ojek konvensional.
     Untuk rute Dermaga ke Barangsiang yang sama-sama di Kabupaten Bogor, dengan ojek biasa tarifnya 50.000, sementara dengan ojek on-line hanya Rp.20.000. Ini jelas pilihan yang mudah  buat calon konsumen. Switching cost dalam industri ini amat rendah.  Maka terjadilah downshifting. Lalu, bagaimana yang satu bisa lebih mahal sedangkan yang lain bisa lebih murah ? ini adalah persoalan model bisnis

       Analoginya mirip bisnis penerbangan full service dengan low cost carrier (LCC).  LCC mendesain model bisnisnya dengan memangkas berbagai biaya. Sehingga tarifnya menjadi lebih murah ketimbang maskapai penerbangan yang full service. Model bisnis inilah yang membuat bisnis model lama akan segera usang.
       Pesaing bukan sesama pelaku bisnis inni, melainkan para pembuat aplikasi yang mempertemukan pemilik kendaraan pribadi dengan calon konsumen yang membutuhkan jasa angkutan. Inilah era disaat semua salin berbagi dan mengedepankan efisiensi, pada intinya kita saling mendayagunakan segala kepemilikan bisa disebut sharing econoomy.

        Kasus serupa bisnis transportasi yang sering kita temui di Indonesia tampaknya bakal kita jumpai dalam bisniss-bisnis yang lain. Diluar negri. Pangsa pasar bisnis perbankan mulai terganggu oleh hadirnya perusahaan-perusahaan crowd funnding. Contohnya saja www. Lendingclub.com. Perusahaan ini mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit ke masyarakat. Bedanya, proses kreditnya jaauh lebih simpel dibandingkan perbankan, dan suku bunganya pun lebih murah. Di Indonesia bisnis seperti ala lending club sudah ada. Silahkan cek website-nya di www.gandengtangan.org. Memang saat ini bisnis yang didanai masih untuk  usaha skala mikro dan social enerprise. Tapi, siapa tahu kedepan bakal melebar kemana-mana di luar negeri, ada www.wirbnb.com yang mempertemukan para pemilik rumah pribadi yang ingin menyewakan rumahnya dengan orang-orang yang mencari penginapan.

         Soal tarif, jelas lebih murah ketimbang hotel lalu adda juga aplikasi yang mempertemukan para pemilik mobil pribadi dengan calon konsumen angkutan darat. Namanya Lyft. Hadirnya aplikasi ini membuat bisnis taksi tersaingi. Begitulah, kita tak biisa membendung teknologi . Ia akan hadir untuk menghancurkan bisnis-bisnis yang sudah mapan- yang tak bisaberadaptasi ddengan perubahan.
Persis kata charles darwin, bukan yang terkuat yang akan bertahan. Tetapi yag mampu beradaptasi dengan perubahan. Maka, kita harus berdamai dengan perubahan. Bagaimana caranya ? Diluar negeri. Para pengelola chain hotel berdamai dengan kompetitornya. Para pemilik rumah yang siap disewakan melalui jasa www.airbnb.com. Caranya mereka menjadi pengelola dari rumah-rumah yang bakal disewakan tersebut sehingga ruangan dan layananya memiliki standar ala hotel.

       Ditahun 1990-an lego menghadapi tantaangan dari industri videogames yang membuat anak-anak tak berminat lagi dengan batu bata mainan  buatan lego. Namun,perusahaan itu mampu bangkit lagi dengan mengandalkan inovasi daro orang-orang di luar perusahaan, atau crowd sourching. Mereka semua belajar dari model bisnis Kick Starter yang fenomenal. Lego tak melawan perubahan, tetapi berdamai. Saya tidak punya resep khusus bagaimana caranya setiap perusahaan mesti menghadapi perubahan. Intinya jangan menentang. Berdamailah dengan perubahan

3 komentar:

  1. Sharing ekonomi harus di share juga utk olahraga bang. (Saya anak jurusan olahraga). Biar masyarakat indonesia makmur dan punya masa hidup yg lebih panjang krna mereka sadar akan pentingnya olahraga. Jangan seperti kasus skrg ini. Pejabat korup kaya raya tp mati krn penyakit keras. Buat apa ??? Udah haram, mati pulaaaaa....

    BalasHapus
  2. Sy berpikirnya bahwa sharing economy itu hanya untuk kalangan perkotaan mas bro... Tapi pengelolaan sumberdaya lokal juga kiranya dapat menggunakan sistem ini. Sharing profit bagi petani dan nelayan dengan margin yang lebih besar bagi penyedia sumberdaya merupakan sebuah keberpihakan bagi pembangunan masyarakat kecil. Saya berpikirnya bahwa ekonomi kerakyatan itu semestinya dibangun dengan sharing economi yang adil. Sehingga distribusi ekonomi itu sampai pada daerah terpencil. Hal ini akan mencpitakan distribusi ekonomi bagi masyarakat yang lebih luas. Juga secara tidak langsung akan menurunkan ketergantungan terhadap lapangan kerja di perkotaan. Konsekuensi logisnya adalah menurunkan urbanisasi dan meningkatnya tingkat pendapatan masyarakat khususnya nelayan, petani dan mata rantainya...

    BalasHapus