Kamis, 02 Juni 2016

PRAKTIS ALA PRAGMATIS




Mungkin karena kita hidup puluhan tahun dalam pragmatisme Orde baru, kita jadi kesulitan untuk melihat jauh kedepan jarak pandang kita kebanyakan menjadi tinggal satu-dua tahun ke depan. Selepas reformasi bukannya lebih baik, kita cendrung lebih pragmatis lagi. Rencana jangka panjang sudah tidak ada lagi, tolak ukur kinerja apapun hitungan persis seperti manajer klub-klub sepakbola eropa, 7 kali kalah langsung pecat. Ini disaat kita tidak pernah mau lagi untuk menghargai proses. Lihat saja kita malas baca berita yang panjang karena begitu banyak yang bisa menyajikan kultwit yang ringkas. Atau cukup baca SMS atau pesan lewat WA yang singkat.

Malas baca buku, hasil kajian, dan segala yang berat. Pragmatisme juga membuat kita kerap kesulitan untuk melihat dan memahami konteks yang luas dan berjangka panjang. Indonesia negri yang luas dan beragam, tapi kebanyakan dilihat dalam konteks jawa. Lalu yang miskin itu dilihat ada diluar jawa, berapa pun masih banyaknya orang miskin yang tinggal dipulau terpadat ini.
Lebih parah lagi, meski sudah bermobil. Kebanyakan juga mengakunya rakyat kecil yang layak dipandang sebagai kaum miskin yang berhak ini itu. Jika tarif tol naik, semua marah-marah, BBM naik semua marah, dalilnya klasik rakyat miskin akan menjerit. 

Kita memang berada dizaman yang  sedsemakin cepat dan ppraktis, masyarakat kitapun juga naik kelas, yang katanya kelas menengah, dengan angka pertumbuhan ekonomi di atas 4%. Isi kantong boleh kelas tengah, tapi perilaku masih kelas rendah. Maaf bukanya saya mengritik kelas ini namun saya juga turut mengkritik diri saya sendiri yang juga tergabung dalam kelas ini. Kita boleh saja punya mobil, namun saat kita melaju dengan mobil kita tanpa rasa berdosa membuka jendela mobil dan membuang sampah smbarangan. Hal ini juga sering ditemui pada kendaraan roda dua, Kita selalu menuntut pemerintah dan kota yang tidak bersih, bukankah kita sendiri yang menyebabkaan kondisi dan situasi itu terjadi. Kita menganggap bahwa segala keburukan yang kita hasilkan akan ada penyelamatnya. Ini berarti kita menganggap bahwa sampah yang ada dijalanan akan bersih dengan sendirinya karena akan ada petugas kebersihan yang akan membersihkan sampah kita. Pragmatis sekali bukan.

11 komentar:

  1. Apa yang disampaikan adalah realita dewasa ini adanya..
    Terkadang orang pada umum nya lebih banyak membicarakan kesenjangan eksternal tampa ada introspeksi internal. Berkaca dari hal ini, mari berbuat sesuatu yang besar dari hal terkecil yakni diri sendiri dan lingkungan sendiri..
    Good luck

    BalasHapus
  2. Segala sesuatu harus d mulai walau terkadang membosankan. Karena perubahan dimulai dari diri sendiri, sekarang, n tak bsa d tunda. Thanks bang neo tulisanny membuat kita tersadar, bahwa kita tak boleh hanya berdiam. Namun harus bergerak n bertindak, sukses slalu bang neo.

    BalasHapus
  3. Ini seperti kenyataan yahh yg terjadi sebenarnya. Keren bang. Udah mulai pandai yahh menulis.

    BalasHapus
  4. Ini seperti kenyataan yahh yg terjadi sebenarnya. Keren bang. Udah mulai pandai yahh menulis.

    BalasHapus
  5. Saya baca sampai 5 kali ini judul teratas

    BalasHapus
  6. paragraf ke-2 sya sepakat bang๐Ÿ‘๐Ÿ‘

    BalasHapus
  7. bg konteks pratikal nya di perdalam dong..

    BalasHapus
  8. Waaah si Abang, emang luar biasa hehe... dan aku juga sepakat dengan isi tulisannya bang. Noted, kantong kelas menengah tapi perilaku kelas bawah.

    BalasHapus