Disekolah dasar kita selalu
diajarkan apa itu kata gotong royong, secara sederhana kita bisa menjawabnya kerjasama yang
dilakukan secara bersama-sama dengan prinsip berbagi.Dibali, kerjasama itu
disebut subak dan ngayah. Mapalus (manado), kenduri (Aceh), Gugur Gunung
(jogja). Sambatan (pesisir Jatim) Sidapari (sumatera utara) dan masih banyak
istilah yang digunakan di nusantara ini.
Selain gotong royong, Indonesia
juga punya perekonomiannya, yaitu ekonomi gotong royong. Bung Hatta
pencetusnya, sebagai ekonom. Bung Hatta berasal daru Sumatera Barat, sangat
dekat dengan ekonomi gotong royong. Sebenarnya
kita punya akar untuk memahaminya bahwa sharing ekonomi itu gotong
rooyong. Namun masih dianggap membingungkan tentang fenomena sharing economy
karena dianggap sering tidak taat azas dan aturan dan sering menjadi sassaran
black campaign, salah satunya belanja on-line beresiko dan tidak aman. Hanya
gara-gara ada pelaku bisnis yang nasibnya terganggu atau mungkin pihak lain
yang kurang nyaman. Harap maklum, segala praktik yang baru memang begiitu ada
pro dan kontranya.Wajar saja sudah lama para ahli mengingatkan bahwa kita
tengah memasuki era new economy.
Kalau dulu ada classical dan neoclassical, kini ada new economy. Celakanya, teori-teori
tentang keadaan di dunia ekonomi baru itu lebih banyak dikembangkan orang-orang
micro dalam ranah strategic management, sehingga wajar kalau masih banyak yang
mengorek-ngorek apakah ini socialism, capitalism, atau new capitalism..

Padahal jelas sekali, analisis
ekonomi lama didasarkan owning economy,
yang setelah dipetakan para pelaku bisnis dunia baru mengakibatkan banyak idle (aset yang menganggur), yang
baru akan menjadi produktif kalau mereka berkolaborasi. Nah, kolaborasi itu
mereka beri nama sharing yaitu sharing resources . Ini
jelas jadi membingungkan mereka yang main asal menerjemahkan dan merasa janggal
kalau di Indonesiakan menjadi ”berbagi”. angankan paradigmanya atau
ideologinya, basis data analisisnya saja sudah berbeda. Old economy menggunakan time series data, makanya ada
istilah lagi. Sedangkan new economy sudah
memakai big data analytics, real time (bukan time series). Maka
pola supply-demand
-nya tak bisa lagi dibuat kebijakan dengan batas harga atas bawah yang berlaku
sekian lama (katakan setahun atau enam bulan). Wong harga dan biaya dalam
hitungan jam saja sudah berubah. Apalagi harian.
Kalau dibuat rigid maka yang
terjadi inefisiensi itu menjadi high cost,
pengangguran. Tidak jadi daging. Berpotensi tidak menyejahterakan. Di banyak
negara, fenomena ini terus bergerak namun juga menghadapi tantangan seperti di
sini. Tantangan itu bisa menjadi batu pijakan untuk membuat bisnis ini menjadi
semakin matang dan berkembang. Sederhana saja. Masyarakat kita menerima
kehadiran bisnis-bisnis baru ini dengan tangan terbuka. Juga, bukankah memang
begitu lazimnya bisnis. Bukan proteksi yang membuat suatu bisnis maju dan
berkembang, melainkan kompetisi dan tantangan
Awal kemunculan sharing economy
tumbuh dan berkembang sejak masa krisis menerpa negara-negara maju ditahun
2008-2009. Itu tahun penting sebab pada tahun-tahun itulah ekonomi kolaborasi
mulai berkembang, terutama di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS).
Anda masih ingat apa yang terjadi tahun itu? Betul, ekonomi dunia terperangkap
dalam krisis finansial yang dipicu oleh skandal subprime
mortgage di AS.
Skandal itu membuat sejumlah perusahaan AS
bangkrut dan menyeret ekonomi Negeri Paman Sam itu masuk dalam krisis.
Celakanya, AS menguasai 40% perekonomian dunia. Maka krisis di AS pun berimbas
ke mana-mana, termasuk mengancam perekonomian negara kita. Perlambatan ekonomi
terjadi di banyak negara, bahkan beberapa malah minus pertumbuhannya.
Pengangguran meningkat.
Di AS, juga di Eropa. Kita pun terkena imbasnya,
meski tak separah negara-negara maju. Di tengah kondisi yang demikian, muncul
bisnis-bisnis baru yang men-disruption bisnis- bisnis lama dan sekaligus
menjadi jawaban atas permasalahan yang terjadi saat itu. Ekonomi sedang krisis.
Pengangguran di mana mana. Mengapa harga-harga
masih begitu mahal ? Chris Anderson, penulis buku Makers: The New Industrial
Revolution (2012), menulis begini, ”If the past decade has been about
finding new innovation and collaboration models on the web, the next decade
will be about applying them to the real world.” Bisnis-bisnis baru ini
memang mengandalkan teknologi sebagai enabler dan membuatnya menjadi
sangat efisien. Apa saja teknologi yang memainkan peran penting di sini. Banyak
sekali.
Misalnya, internet yang kian mengglobal dan
memungkinkan seluruh warga dunia terkoneksi. Lalu, peranti gadget kita
yang kian powerful dan mobile. Dulu salah satu masalah serius
dalam bisnis di dunia maya adalah soal pembayaran. Ini membuat pasar maya sulit
berkembang. Beruntung kini kita sudah memiliki sejumlah sistem pembayaran di
pasar maya. Misalnya, Paypal. Salah satu fenomena yang memicu berkembangnya
bisnis berbagi adalah social network. Contohnya Facebook. Sampai dengan
Juni 2014, pengguna aktifnya sudah mencapai 1,32 miliar atau hampir 20% dari
seluruh penduduk dunia. Lalu ada Google+ yang jumlah penggunanya bahkan sudah
mencapai 1,6 miliar, Twitter dengan 645,7 juta, atau Instagram 415 juta. Di
luar itu masih ada beberapa media sosial lainnya, seperti LinkedIn, Pinterest,
Path, atau SnapChat.
Pada akhirnya adalah man behind the gun.
Siapa mereka? Mereka ini anak-anak muda yang peduli dengan lingkungan dan
sesama, senang berbagi dan suka menolong orang lain. Auguste Comte menyebut
perilaku manusia seperti ini dengan istilah altruisme , yakni perilaku yang
ingin membuat dirinya bermanfaat bagi sesamanya, bahkan kalau perlu sampai
mengorbankan dirinya. CEO Google Eric Schmidt mengidentifikasi mereka:
”Ini generasi cerdas. Mereka lebih cepat, lebih global, banyak akal, dan
berpendidikan lebih baik. Mereka saling terhubung sejak menjelang lahir melalui
ponsel, chatting, dan jaringan sosial. Mereka saling peduli lebih dari yang
pernah kita bayangkan.” Negara kita punya sejumlah kondisi yang kurang lebih
sama dengan negara-negara maju kala mereka menghadapi krisis ekonomi. Kita
memang tidak berada dalam kondisi krisis ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi kita pada tahun 2016
ditargetkan mencapai 5,3%. Namun, pengangguran di negara kita masih bertebaran
di mana-mana. Ini jelas bukan masalah pemerintah, melainkan kita semua. Bicara
teknologi, Ini jelas bukan masalah pemerintah, melainkan kita semua. Bicara
teknologi, ini datanya. Jumlah pengguna internet di negara kita pada tahun 2014
diperkirakan lebih dari 93,4 juta. Kini jumlahnya pasti sudah bertambah. Lalu,
pengguna Facebook pada 2014 diperkirakan sudah 69 juta. Kini pasti jumlahnya
juga sudah bertambah. Kemudian, pengguna Twitter sudah menembus 50 juta
pengguna.
Sementara pengguna Path dan LinkedIn masing-
masing sudah di atas 4 juta. Lagi, jumlah mereka bakal terus bertambah. Jadi
dari sisi social network, kita juga sudah siap melakukan tugas sharing dan
berkolaborasi. Lalu, yang terakhir dan membuat saya sangat bangga, kita punya
pasokan generasi altruisme . Mereka bukan hanya generasi yang mau berbagi dan
suka menolong. Lebih dari itu, mereka adalah generasi yang punya mimpi-mimpi
besar tentang negara ini. Mereka bukan generasi yang hanya menanti datangnya
perubahan.
Mereka bertindak. Bahwa langkah yang mereka
lakukan menciptakan disruption, dan itu konsekuensi logis. Sebab sebagai
pendatang baru dalam dunia bisnis, perilaku mereka memang harus begitu. Mereka
harus men-disruption bisnis-bisnis yang lama. Kalau hanya me too,
mereka tak ada bedanya dengan pemain yang sudah existin. Selamat datang di era disruption..